Umroh adalah perjalanan hati menuju Allah, namun tak jarang muncul godaan yang tak terlihat: rasa ingin dipuji, diperhatikan, atau dianggap lebih taat dari yang lain. Inilah yang disebut riya, penyakit hati yang bisa merusak pahala ibadah. Tidak sedikit jamaah yang melakukan hal tersebut baik disengaja maupun tidak. Tentunya hal ini menjadi kerugian bagi jamaah itu sendiri. Oleh sebab itu, jamaah perlu untuk menjaga hati dari riya selama umroh.
Pertanyaannya: bagaimana agar ibadah suci ini tetap ikhlas dan penuh makna?
Apa Itu Riya dan Mengapa Perlu Diwaspadai?
Riya berarti beramal bukan semata karena Allah, melainkan untuk mendapatkan perhatian manusia. Biasanya, jamaah tanpa sadar melakukan riya, mereka menganggap hal – hal yang mencerminkan riya seperti suatu hal yang sudah biasa. Sebagai contoh berikut bentuknya bisa sangat halus:
- Mengunggah foto ibadah agar dianggap saleh.
- Bercerita berlebihan tentang ibadah di Tanah Suci.
- Merasa bangga saat dipuji karena bisa berangkat umroh.
Jika tidak dijaga, riya bisa menggerogoti nilai ibadah, bahkan menjadikan perjalanan umroh hanya sebatas rutinitas fisik tanpa ruh. Jamaah tentunya tidak ingin bukan? ibadah umroh yang sudah dinanti – nanti malah berakhir tanpa nilai dan amal ibadahnya!..
Menjaga Hati: Tips Praktis untuk Jamaah Umroh

1. Luruskan Niat Sejak Awal
Sebelum berangkat, tanamkan dalam hati: “Saya berangkat hanya untuk Allah, bukan demi penilaian manusia.” Niat itu penting, jangan karena satu atau dua pujian, niat jadi berubah.
2. Kurangi Ekspos Berlebihan
Membagikan foto perjalanan boleh saja, tapi tanyakan pada diri: apakah untuk berbagi kebaikan, atau sekadar pamer?, bukan berarti tidak boleh membagikan foto sepenuhnya, namun pastikan tujuan foto tersebut untuk hal baik dan bermanfaat bagi siapapun.
3. Perbanyak Dzikir dan Doa
Dzikir menjaga hati tetap terhubung pada Allah, sehingga perhatian tidak mudah bergeser ke penilaian orang lain. Sering sekali jamaah menjadi tidak fokus beribadah dikarenakan satu atau dua pujian dari orang sekitarnya dan berujung merugikan jamaah itu sendiri.
4. Ingatlah Keterbatasan Diri
Meski sudah berangkat umroh, kita tetap hamba yang penuh kekurangan. Kesadaran ini membuat hati rendah dan jauh dari rasa sombong. Ingat juga, ketika di baitullah, status seluruh jamaah itu sama yaitu Hamba Allah.
5. Fokus pada Manfaat untuk Orang Lain
Alihkan energi dengan membantu sesama jamaah, entah dalam hal kecil seperti memberi tempat duduk atau membagikan air zamzam. Tidak menutup kemungkinan, bantuan kecil tersebut menjadi jalan yang mempermudah kehidupan jamaah setelah beribadah umroh.
Persiapan Mental dan Spiritualitas Sebelum Umroh
Selain perlengkapan fisik, jamaah juga perlu menyiapkan bekal hati:
- Membaca buku tentang keutamaan ikhlas.
- Mendalami doa-doa yang bisa menjaga hati.
- Diskusi dengan ustadz atau pembimbing manasik tentang penyakit riya.
Dengan bekal ini, perjalanan Anda bukan hanya aman secara logistik, tetapi juga kokoh secara spiritual.
Selalu ingat bahwa perjalanan umroh adalah undangan Allah, bukan panggung pertunjukan. Mari jadikan setiap langkah, doa, dan sujud di Tanah Suci sebagai bukti cinta kepada-Nya, bukan sekadar pencarian perhatian manusia. Menjaga hati dari riya selama umroh itu penting, baik bagi diri sendiri maupun orang sekitar.
Jika Anda ingin perjalanan yang terarah, tenang, dan dibimbing agar ibadah semakin fokus, percayakan pada Hattin Tours. Kami hadir untuk menemani, agar Anda bisa lebih mudah menjaga niat, hati, dan langkah menuju keberkahan.











