Bagi banyak karyawan, berangkat umroh mungkin terasa sebagai mimpi yang jauh. Gaji bulanan sering kali sudah habis untuk kebutuhan sehari-hari, cicilan, atau keperluan keluarga. Namun,
Setiap anak pasti ingin membahagiakan orang tua, dan setiap pasangan ingin menghadirkan momen berkesan bagi belahan jiwanya. Salah satu hadiah yang kini menjadi tren adalah
Setiap jamaah umroh dan haji pasti merasakan getaran hati yang luar biasa saat pertama kali melangkah ke Masjid Nabawi. Suasana damai, cahaya lampu yang menenangkan,
Bayangkan momen ketika kaki mulai melangkah mengelilingi Ka’bah. Hati bergetar, mata berkaca-kaca, mulut tak henti berdzikir. Namun, di balik rasa haru itu, banyak jamaah merasa
Setiap muslim mendambakan kesempatan berangkat ke Tanah Suci. Namun, bagi jamaah dengan kondisi autoimun, muncul kekhawatiran: Apakah saya mampu menjalani ibadah yang membutuhkan fisik kuat?
Bagi seorang ibu, keberangkatan umroh atau haji bukan hanya perjalanan spiritual, tetapi juga sebuah tantangan. Terlebih bila masih dalam masa menyusui. Bagaimana membagi waktu antara
Setiap Muslim tentu menyimpan harapan untuk bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci. Namun, bagi sebagian jamaah, keterbatasan biaya menjadi tantangan terbesar. Di era digital seperti
Salah satu momen yang paling ditunggu jamaah ketika berada di Tanah Suci adalah membeli oleh-oleh untuk keluarga di tanah air. Kurma, air zamzam, sajadah, atau
Bayangkan Anda sudah sampai di Tanah Suci, hati bergetar melihat Ka’bah untuk pertama kalinya. Namun, di sisi lain muncul rasa was-was: “Apakah barang saya aman?
Bagi sebagian jamaah, menyiapkan koper umroh bisa jadi hal yang membuat bingung. “Apa perlu dibawa semua? Bagaimana supaya koper tidak terlalu penuh?” Pertanyaan ini sering